Kakek tua renta berjalan sendirian dipinggir trotoar itu. Pakaiannya compang camping, badannya kurus kering dan jalannya sudah tertatih-tatih. Kamu hanya melihatnya dengan acuh, Benakku berbicara “kotor sekali orang ini, bau sekali badannya” Sungguh tak layak ia berada disini, berada ditengah-tengah kota metropolitan seperti Jakarta ini.

Dia bukan seorang pengemis, dia bukan seorang pemulung. Namun ketika ia beristirahat dipinggir jalan itu, banyak sekali orang yang memberinya uang atau bahkan makanan. Bahkan kamu memperolok-olok dia didalam benakmu. Salah apa kakek tua itu sampai semua orang memperlakukannya seperti itu.

Dia diseret-seret oleh Satpol PP karena Satpol PP juga mengira ia seorang pengemis, perlakuan yang sebenarnya kurang pantas karena kita sama-sama manusia. Berkali-kali kakek tua itu berkata “saya bukan pengemis” namun Satpol PP tak mengindahkan ucapannya. Bergabunglah kakek itu dengan para pengemis dan anak-anak jalanan untuk dibawa ke tempat pemberdayaan para pengemis dan anak-anak jalanan.

Ketika sang kakek itu ditanya tentang dirinya, ia hanya tau namanya dan nama anaknya selebihnya ia tidak ingat apapun. Dan ketika sang kakek menjelaskan tentang dirinya, diketahui bahwa sebenarnya kakek tua itu tersesat sudah satu minggu ini dan lupa jalan ke arah rumah anaknya.

~selesai~

Cerita tadi hanya menggambarkan sedikit realita kehidupan kita, kita sering melihat orang hanya dari covernya saja tanpa peduli dengan apa yang sebenarnya terjadi didalam hidupnya. Kita mudah mencaci mereka atau bahkan merendahkannya, padahal belum tentu ia saya dengan apa yang kita pikirkan. Banyak alasan kenapa orang bersikap seperti itu, berpakaian seperti itu dan lain sebagainya dan kita tak perlu tahu. Namun satu hal yang harus kita tahu, mereka sama seperti kita “manusia” perlakukan mereka seperti kita ingin diperlakukan oleh oranglain dan jangan menganggap oranglain lebih rendah dari pada kita.