Ketika Fungsi “Zebra Cross” Diabaikan

 

Zebra Cross, siapa yang tak tahu istilah ini dalam kehidupan sehari-hari? Tempat menyeberang yang lebih sering berada di lampu merah ini hanya dikenal untuk menyeberang saja.

Namun, banyak orang tidak tahu cara memakai zebra cross. Pejalan kaki maupun pengendara mobil/motor masih banyak yang tidak paham makna penggunaan si hitam putih ini.

Di Jakarta, zebra cross banyak disepelekan, kebanyakan pengendara mobil/motor yang melakukannya. Tak hanya itu, kondisi zebra cross banyak yang tidak terawat. Akibat banyaknya masyarakat menyepelekan zebra cross, para pejalan kaki justru menjadi takut menyeberang di garis hitam putih itu.

“Takut nyeberang di zebra cross, banyak yang ngebut, ada lampu merah tetap saja penyeberang susah, apalagi nggak ada lampu lalu lintas. Mesti ditertibkan lagi,” keluh Vista (21), mahasiswi yang tinggal di Jakarta Timur.

Vista juga mengeluhkan kurang tegasnya petugas dan membiarkan pengendara berhenti di zebra cross. “Aneh ada polisi kok bukannya ditilang itu motor-motor. Kita kan nyeberang jadi susah,” keluh Vista yang ditemui di zebra cross kawasan Cawang, Jaktim.

Memang, pejalan kaki yang berjalan di atas zebra cross harusnya mendapat prioritas terlebih dulu dari pengendara mobil/motor yang melintas. Namun, kenyataannya tidak.

Zebra cross seharusnya hadir di jalan-jalan depan sekolah, fasilitas umum, tempat ibadah, hingga pertigaan, perempatan, perlimaan, dan simpang jalan yang besar. Dalam kenyataannya, masih banyak tempat-tempat tersebut tidak disediakan zebra cross.

Kalapun ada, kembali lagi, fungsinya tidak dilakukan sebagaimana mestinya. Seperti di depan SMP Negeri 06 Bekasi, Pondok Gede. Di sana, tak tampak garis hitam putih untuk menyeberang, padahal lalu lintas di depan sekolah itu sangat padat dan merupakan kawasan yang banyak dilintasi anak sekolah.

Seorang pejalan kaki yang hendak menyeberang mengeluhkan fungsi zebra cross, serta membandingkan pemakaian zebra cross di Indonesia dengan di Singapura dan Jepang.

Nyeberang di sini susah, pengendara mobil/motor kayaknya nggak mengerti fungsi zebra cross. Kalau ada lampu lalin bagus, atau ada petugas, kalau nggak ada repot. Jauh banget sama di Singapura atau Jepang, Pengendara mobil/motor yang melintasi zebra cross langsung ditindak petugas. Di sini, petugas malah suruh pengendara maju ke zebra cross. Aneh. Alasannya terlalu padat kendaraan,” ujar Jems (20) yang hendak menyeberang di zebra cross depan Halte Busway Monas, Jumat (25/11) jelang sore.

Tak seperti di depan Halte Busway Monas, depan kantor Palang Merah Indonesia DKI Jakarta di kawasan Kwitang, Jakpus, warna zebra cross memudar, padahal kawasan tersebut termasuk ramai pejalan kaki dan padat lalu lintas. Kehadiran zebra cross menunjang keberadaan jembatan penyeberangan orang (JPO) yang ada di Jakarta.

Namun karena keberadaannya kurang terawat dan tidak ada pengawasan khusus, banyak pejalan kaki memilih JPO untuk menyeberang. “Lebih baik lewat jembatan, lebih aman. Banyak penyeberang yang belumngerti pakai zebra cross, kendaraan juga belum paham,” ucap Valen (25) seorang penyeberang di kawasan Kwitang.

Diharapkan dengan minimnya keberadaan zebra cross serta pengawasan dan perawatan, masyarakat harus lebih berhati-hati dalam menyeberang. Untuk dinas terkait, harus lebih peka dengan fasilitas yang dibutuhkan masyarakat untuk menyeberang ini.

Keberadaan JPO yang juga mulai tidak nyaman dengan adanya PKL serta pengemis, membuat zebra crossmenjadi harapan satu-satunya bagi pejalan kaki untuk menyeberang.

Jika zebra cross saja disepelekan, berarti sama saja mendukung terjadinya kecelakaan lalin di Ibu Kota. Pengendara bermotor tampaknya harus pelajari lagi fungsi zebra cross, demi kenyamanan pejalan kaki. (MG-13)

 

Pendapat :

Lalu lintas di Indonesia memang sangat berantakan, masalah ini timbul karena kurangnya sosialisasi kepada masyarakat tentang tertib lalu lintas. Sebuah zebra cross yang seharusnya digunakan untuk menyebrang jalan tidak dipakai oleh para pejalan kaki karena alasan takut tertabrak oleh kendaraan. Petugas Lalin atau bahkan polisi harusnya bertindak sesuai fungsinya, misalnya di setiap lampu merah para pengendara motor atau mobil diberi batas berhenti yang benar sehingga mereka tidak berhenti diatas zebra cross karena itu membahayakan para pejalan kaki. Selanjutnya memberi zebra cross di tempat sarana prasarana umum, misalnya sekolah, kantor, tempat ibadah, rumah sakit dan lain-lain. Ini amat sangat membantu para pejalan kaki dengan syarat para pengendara motor atau mobil harus berjalan sesuai aturan dan kecepatan yang rendah di setiap zebra cross sehingga aman untuk pejalan kaki.