Remaja Kini Gampang Membunuh

Penulis : Heru Guntoro/Saiful Rizal/Muhamad Nasir/Norman Meoko
Minggu pertama di awal Desember 2011 ini, lima pelaku kejahatan diketahui berstatus pelajar. Usia mereka antara 14-17 tahun. Tidak tanggung-tanggung, tindakan yang mereka lakukan sudah masuk ranah pidana, yakni menghilangkan nyawa orang.

Menurut catatan SH, aksi kekerasan hingga menghilangkan nyawa orang itu dipicu persoalan sepele, mulai dari dorongan ekonomi hingga perang antargeng. Sebut saja apa yang dilakukan ES, pelajar kelas dua sekolah menengah kejuruan (SMK) negeri di Jakarta Pusat. Pada Jumat (2/12), dia mencuri sepeda motor Yamaha Mio nomor polisi B-6112-PPW milik Mansyur.

Dalam aksinya ES dibantu He (14). Keduanya mencuri sepeda motor yang tengah diparkir di depan rumah korban di Jalan Cempaka Putih Barat, Jakarta Pusat. Belakangan diketahui ES telah mempunyai istri dan tengah hamil lima bulan. ES melakukan itu untuk biaya ujian semester sekolah dan membiayai istrinya.

Pencurian juga dilakukan dua remaja di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Kedua pelajar sekolah teknik menengah (STM) di Jakarta Utara itu yakni Dan (17) dan Fir (16), masuk geng pencurian sepeda motor.

Mereka mencuri sepeda motor Yamaha Mio nomor polisi B-6279-TYM milik Ragil Imam Santoso yang diparkir di lokasi permainan biliar di Gading Marina, Jalan Boelevard Barat Raya, Kelapa Gading, Jakarta Utara, awal Desember 2011. Kini kasusnya ditangani Polsek Metro Kelapa Gading.

Kasus kekerasan lainnya menimpa Rival Endryan. Pelajar kelas dua STM Budi Utomo, Jakarta Pusat ini tewas setelah dicelurit pelajar lain yang mengadangnya di jembatan layang kawasan Roxy, Jakarta Pusat, 26 November 2011.

Aksi pembunuhan itu ternyata telah dirancang dua tersangka pelaku melalui jejaring sosial Facebook. Di dunia maya itu bermunculan grup pendukung tawuran. Mereka menantang mencari musuh di halaman situs itu karena saling merasa jago. Pesan dari Facebook inilah yang membuat Rival Endryan melayang sia-sia.

Kasus paling sadis dilakukan tiga siswa SD di Ciracas, Jakarta Timur, 26 November 2011. Ketiga tersangka yakni FAR, NE, dan DS membunuh Immanuel Siagian (14), siswa SMP Negeri 257 Ciracas.

Ternyata ketiga tersangka masuk dalam geng yang memegang semboyan “Kematian dalam Damai”. Mereka membunuh karena kesal nama gengnya yang ditulis pada dinding dicoret dan diganti nama geng korban. Immanuel Siagian tewas setelah terkena sabetan celurit di dada kiri dan punggung.

Terakhir kenakalan remaja terjadi di Tambora, Jakarta Barat. Lima siswa SMP Negeri 63 di Jalan Perniagaan, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, Minggu (4/12), membakar salah satu ruang kelas di SMA Negeri 19. Mereka mengaku membakar ruangan karena iseng. Kelima siswa itu yakni Hi (15), Iv (15), Rd (15), Kv (15), dan Ha (14).

Niat membakar satu ruang kelas di SMA negeri yang satu kompleks dengan SMP Negeri 63 muncul saat menunggu kegiatan ekstrakurikuler bola basket pada Minggu petang sekitar pukul 15.45 WIB. Saat itu, suasana sekolah sepi. Mereka melompat masuk ruang kelas lewat jendela, menaruh sampah di atas meja, membakarnya, dan meninggalkan ruang kelas itu.

Kasus tersebut ditangani Polsek Metro Tambora (baca: Iseng Berujung Bakar Sekolah).

Pendapat :

Amat sangat disayangkan para remaja saat ini sangat anarkis dan mungkin memiliki pemikiran yang sangat pendek. Pengaruh globalisasi dan perkembangan tekhnologi yang sangat pasat sangat memacu perubahan mental remaja sekarang ini. Banyak dari mereka mungkin lahir dari keluarga kurang mampu tapi demi gengsi mereka melakukan hal-hal aneh, misalnya mencuri atau bahkan membunuh orang lain hanya demi mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan karena orangtua tidak mampu membelikannya. Akhirnya mereka harus terjerumus kedalam kasus hukum sampai harus masuk penjara. Dalam keadaan yang seperti ini, peran orangtua sangat diperlukan untuk membimbing dan memberi pengarahan kepada anak-anaknya untuk berfikir secara rasional dan tidak gegabah dan menanamkan budi pekerti yang baik serta membimbing agama yang baik. Tidak perlu gengsi jika teman-temannya jauh lebih mampu dari mereka. Usaha keras jauh lebih baik dari pada membuat keputusan-keputusan singkat yang dapat menjerumuskan. Para remaja adalah para pemimpin Negara dimasa mendatang, Negara ini akan semakin terpuruk bila kejadian ini terus terjadi.