Kasus Century Terus Mengambang
sumber : tajuk rencana- Kompas.com

Kegaduhan atas kasus Bank Century seperti tidak pernah habis-habisnya, ibarat bola panas dan liar yang setiap kali dapat dipermainkan.

Sampai sekarang tidak tampak kesungguhan penyelesaikan secara tuntas kasus aliran dana talangan Rp 6,7 triliun yang menghebohkan itu. Seakan sudah menjadi pola yang terus berulang, kasus itu seperti dibiarkan surut sejenak sebelum dihebohkan lagi.

Tidak terlihat upaya penyingkapan kasus secara gamblang, khususnya ke mana saja aliran dana talangan itu bergerak. Lebih absurd lagi, arah penyelesaian tidak pernah jelas. Persoalan bertambah rumit karena perdebatan kembali berputar-putar antara upaya penyelesaian politik dan penyelesaian hukum.

Kasus Bank Century menjadi mengambang antara persoalan hukum dan politik. Tentu saja persoalan hukum dan politik tidak boleh dicampuradukkan, tetapi harus dipilah-pilah. Namun, sebagai persoalan yang berimplikasi politik dan hukum, kasus Bank Century bisa diselesaikan secara paralel antara pendekatan hukum dan politik.

Tidak perlu dipertentangkan antara penyelesaian hukum dan penyelesaian politik. Penyelesaian kasus Bank Century bisa ditempuh secara hukum atau politik, bahkan bisa kedua-duanya. Sungguh mencengangkan ketika kasus Bank Century dikembalikan kepada DPR untuk diselesaikan secara politik setelah penyelesaian hukum tidak kunjung tercapai. Lempar-melempar upaya penyelesaian itu hanya membuat kasus Bank Century terus mengambang dan semakin tak menentu.

Kegagalan menyelesaikan kasus Bank Century secara cepat, cermat, dan adil ikut menimbulkan keraguan publik tentang kesungguhan pemerintah memberantas korupsi. Apalagi korupsi terus merebak luas tak terkendali. Tidaklah mengherankan pula Indonesia dalam mata masyarakat dunia dipersepsikan sebagai negara dan bangsa yang masuk kategori paling korup di dunia. Persepsi itu merefleksikan realitas tentang ancaman korupsi yang mengganas di Indonesia.

Sinisme dan sikap apatis di kalangan masyarakat juga meningkat karena janji-janji pemberantasan korupsi terasa jauh dari kenyataan. Lebih-lebih lagi masyarakat semakin merasa sebagai korban perilaku korup para pejabat mulai pusat sampai ke daerah-daerah.

Persoalan korupsi terus menumpuk menjadi benang kusut yang sulit diurai. Belum lagi satu kasus dibereskan, muncul lagi kasus baru. Sekalipun persoalan korupsi sudah menumpuk dan ancamannya sudah berbahaya, tidak ada terobosan untuk mengatasinya. Upaya penyelesaian masih berputar-putar di tempat, tanpa solusi.

Telah muncul pula kecurigaan, jangan-jangan upaya pembongkaran kasus Bank Century merupakan bagian dari politik buka kartu belaka sebagai bagian dari manuver politik dan tarik-menarik kepentingan, tanpa komitmen dan kesungguhan untuk memberantas korupsi.

Tanggapan :
Kasus korupsi di Indonesia memang sedang merajalela saat ini, Sehingga semakin menumpuk setiap waktu. Titik lemah kita adalah hukum yang masih sangat lemah, dapat diputar balikkan fakta dan dapat dibeli. Tidak adanya ketegasan para Aparat Hukum maupun KPK juga memicu lemahnya pemberantasan korupsi di Negara ini. Dan kebanyakan para koruptor yang tertanggak diharuskan tutup mulut untuk melindungi para koruptor lain yang terlibat. Cara terbaik untuk memberantas korupsi saat ini adalah memperbaiki struktur hukum Indonesia, bertindak tegas jika memang terbukti bersalah, tidak mudah disuap,berlaku adil dan tidak adanya permainan politik. Karena banyak rakyat yang menderita saat ini karena para koruptor yang seenaknya saja menikmati uang rakyat.