– Wacana nonilmiah adalah tulisan yang tidak terikat pada aturan yang baku. Beberapa contoh yang dapat disebut untuk memenuhi kriteria karangan nonilmiah adalah anekdot, dongeng, hikayat, cerita pendek, cerita bersambung, novel, roman, puisi, dan naskah drama.

Contoh wacana non ilmiah (cerita pendek)

Selamat Ulang Tahun Dinda

Jam menunjukkan pukul 6 pagi, tetapi Dinda masih menyelinap dibalik selimutnya. Hujan rintik-rintik menambah dinginnya udara pagi. Kian masalah Dinda untuk bangun. Apalagi ini adalah hari minggu, hari terindah untuk bangun siang dan bermalas-malasan.

“Dinda…Bangun! Kamu nggak Gereja? Mama Papa sudah siap nih!” teriak mama sambil mengetuk pintu.

Dinda berumur 7 tahun, anak tunggal di keluarganya. Papanya seorang tukang tambal ban, sedangkan Mamanya berjualan gorengan di dekat pangkalan. Ia sering membantu mengaduk adonan dan menjaga warung. Biasanya kalau gorengan habis, maka Dinda mendapat komisi dari Mama. 5 ribu rupiah didapatnya, lumayan untuk ditabung dicelengan kodoknya. Nantinya uang tersebut untuk membeli sepeda seperti punya Santi tetangganya. “Mamaaaaa……aku ikut, Dinda ingin bertemu Tuhan Yesus.” Lantas Dinda mandi dengan cepat. Mama sudah menyiapkan pakaian untuk Dinda. Setelah semua beres, mereka bertiga berjalan kaki menuju gereja.

“Untuk kesehatan.” Kata Mama waktu ditanya mengapa tidak naik angkot.

Dinda tahu, itu cara Mama untuk menghemat. Sesampainya di gereja, Dinda melihat banyak orang berkerumun di bangunan kecil di sudut gereja. Dinda melewati depan bangunan itu, dengan terbata di bacanya tulisan pada papan nama “K.o.p.e.r.a.s.i”

“Apaan tuh Koperasi? Koq banyak orang di dalamnya?” Tanya Dinda dalam hati.

Dinda tidak ambil pusing. Ia segera menyusul orangtuanya yang sudah mendapatkan tempat duduk di balkon gereja. Setelah selesai, mereka pulang. Sesampainya di depan rumah, mereka terkejut karena pintu rumah sedikit terbuka, pertanda ada orang yang telah masuk. Segera Papa dan Mama berlari masuk dan melihat apakah ada barang yang hilang. Syukurlah, tidak ada satupun barang yang hilang.

Tiba-tiba

“M a m a a a ….. c e l e n g a n k u pecaaaahh…Duitnya nggak ada!!!” teriak Dinda sambil menangis. Mereka langsung mendatangi Dinda. Dengan berurai air mata dan teriakan keras ia menunjukkan celengan kodoknya yang telah pecah. Ia menangis meraung-raung. Hilang sudah sepeda impiannya. Lenyap sudah harapan untuk dapat bersepeda bersama Santi. Padahal bulan depan Dinda berulang tahun, rencananya hasil tabungannya akan ditambah sedikit uang dari Papa untuk membeli sepeda. Papa dan Mama menatap pecahan dengan sedih, mereka ikut merasakan penderitaan Dinda. Mereka tidak tahu bagaimana menghibur Dinda, karena tak mampu untuk membelikan sepeda.

Hari berlalu, Dinda sudah mulai bisa melupakan impian untuk membeli sepeda.

Hari ini hari ulang tahunnya. Ia tidak mengharapkan hadiah apapun yang penting ia sehat. Segera ia bangun dengan disambut kecupan mesra dari Mama sambil mengucapkan selamat ulang tahun dan menyodorkan sebuah bungkusan kecil.

“Apaan ini Ma?” Tanya Dinda. “Buka saja” kata Mama.

Segera Dinda membuka pembungkus dan mendapatkan sebuah buku biru kecil. Dinda mengernyitkan dahinya dan bertanya

“Buku apa ini Ma?”. “Baca dong judulnya!” Kata Mama sambil tersenyum

Dinda membaca dalam hati “K.o.p.e.r.a.s.i K.r.e.d.i.t”

Dinda tambah bingung “Apaan si ini Ma..?”

“Papa kemarin dapat borongan, hasilnya ditabungkan di Koperasi atas namamu. Semalam petugas koperasi dating ke lingkungan memberikan pengenalan tentang koperasi. Dijelaskan manfaat dan untungnya kita menjadi anggota koperasi. Sekarang kamu menabung saja di Koperasi. Uangmu gak bakal dicuri oleh maling. Sewaktu-waktu kamu juga dapat mengambilnya tanpa dikurangi biaya apapun.”

Dengan girang Dinda menatap buku biru bertuliskan Koperasi Kredit Sejahtera paroki St. Agustinus.

“Selamat Ulang Tahun Dinda…” Terdengar papa menyapa dengan lembutnya.